Rabu, 10 Juni 2009

Juwono: Bedakan Audit Alutsista "Jadi bedakan antara audit alutsista sebagai alat teknis dengan audit pembukuan."

Rabu, 10 Juni 2009, 18:19 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Yudho Rahardjo
Alutsista (alat utama sistem senjata) TNI (ANTARA/Jessica Wuysang)

VIVAnews - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan nilai nominal pembelian alat sistim utama senjata (alutsista) berbeda dengan dengan nilai saat ini. Dengan demikian, menurut dia, harus dibedakan antara audit alutsista sebagai alat teknis dengan audit sebagai pembukuan.

"Beliau (Anwar Nasution-Ketua Badan Pemeriksa Keuangan) membahas dari segi audit keuangan dan administrasi. dari Dephan, ditinjau dari harga alutsista dan hitung-hitungan dari anggaran alutsista," jelas Juwono kepada wartawan, Rabu 10 Juni 2009.

Ia menambahkan alutsista yang saat ini dimiliki TNI dibeli 15-20 tahun yang lalu. "Tentu lain dengan nilai sekarang. Jadi bedakan antara audit alutsista sebagai alat teknis dengan audit alutsista dari pembukuan."

Menurutnya, pertanggungjawaban dua teknik itu beda sekali. Jika dipukul rata diatas kertas, lanjut Juwono, tentu ada perbedaan nilai dalam audit BPK. "Ada nilai yang berbeda antara nilai teknis dari satu alutsista dengan nilai buku keuangan pada waktu dibeli dengan sekarang,"jelasnya.

Satu hal yang penting, menurut dia, adalah anggaran untuk perawatan dan pemeliharaan alutsista yang dibeli setua apapun tetap ada.

Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan menilai pemerintah belum cukup baik dalam mengelola aset negera. Di Departemen Pertahanan dan TNI, misalnya, tidak dipisahkan alutsista yang sudah jadi barang rongsokan dan yang masih terpakai.

Ketua BPK Anwar Nasution menyinggung neraca Departemen Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia yang mencatat aset sekitar Rp 163 triliun atau 24 persen dari aset pemerintah. Sekitar Rp 47 triliun atau 29 persen dari aset Departemen Pertahanan dan TNI itu adalah berupa peralatan dan mesin alutista (alat utama sistem persenjataan).

"Padahal sangat penting untuk memisahkan aset yang efektif ini dengan aset rongsokan atau pun yang memiliki teknologi terbelakang," kata dia di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 9 Juni 2009.

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar