Jumat, 11 September 2009

Norwegia Tawarkan Empat Hercules

Jumat, 11 September 2009 18:00 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | Dibaca 531 kali
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Norwegia menawarkan empat unit pesawat angkut C-130 Hercules tipe H kepada Indonesia, kata Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Imam Wahyudi, Jumat.

Ditemui ANTARA di ruang kerjanya di Jakarta, ia mengatakan, empat unit Hercules tipe H itu sebelumnya telah digunakan angkatan udara Norwegia.

"Karenanya mereka (Pemerintah Norwegia) akan melakukan retrovit atau peremajaan terhadap empat Hercules tersebut sebelum diberikan kepada Indonesia," katanya.

Imam mengatakan, empat unit Hercules tipe H yang ditawarkan tersebut keseluruhannya bernilai 66 juta dolar AS. "Ya dengan harga segitu, lumayan juga untuk menambahkan kekuatan skadron Hercules kita, jika pemerintah Indonesia tertarik membelinya," katanya menambahkan.

Sebelumnya, AS menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia.

Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF) dan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules.

Australia menawarkan Hercules Tipe J, namun pesawat dari Australia masih jangka panjang, kendati prosesnya sudah dilaksanakan sejak sekarang, namun realisasinya masih lama.

Hingga kini Indonesia memiliki satu skadron C-130 Hercules berbagai tipe, yakni C-130 Hercules VIP, C-130 H/HS, C-130 B/H dan C-130 BT dengan tingkat rata-rata kesiapan 60 persen atau sekitar sembilan unit.

Meskipun telah puluhan tahun, TNI AU tetap menggunakan dan memelihara C-130 Hercules melalui perawatan terjadwal service life extension programmed (SLEP), inspection repair as necessary (IRAN), dan program retrofit dengan biaya 51 juta dolar AS untuk empat pesawat agar dapat bertugas lebih lama lagi yakni sekitar 15 tahun.

"Kini dari empat Hercules yang menjalani peremajaan di Singapura, dua telah selesai, dan dua sisanya masing-masing diremajakan di Singapura dan Depo Pemeliharaan 10 TNI AU," demikian Imam.(*)

Selasa, 14 Juli 2009

TNI Siapkan Pengadaan Alutsista Baru

TNI Siapkan Pengadaan Alutsista Baru

Jakarta (ANTARA News) - TNI akan memfokuskan kenaikan anggaran pertahanan sebesar 20 pada APBN 2010, untuk pengadaan sejumlah alat utama sistem senjata baru menggantikan alat utama sistem senjata yang telah lama dikandangkan seperti pesawat OV-10 Bronco dan Hawk MK-53 TNI Angkatan Udara (AU).

"Tentu itu akan diadakan bertahap, tidak langsung masing-masing satu skadron. Kenaikannya kan juga harus diprioritaskan juga untuk pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem senjata yang masih digunakan," kata Juru Bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen di Jakarta, Selasa.

Selain itu, TNI akan mengajukan kembali sisa pengadaan helikopter Mi-17 bagi TNI Angkatan Darat (AD) dan kapal selam yang masih tertunda pengadaannya bagi TNI Angkatan Laut (AL).

"Semua alat utama sistem senjata itu, selama ini telah diajukan namun belum bisa direalisasikan karena keterbatasan anggaran. Jadi, kita masih melanjutkan program yang sudah direncanakan sebelumnya," kata Sagom.

Untuk pengajuan beberapa alat utama sistem senjata itu, tambah dia, masih digodok terlebih dulu di masing-masing angkatan untuk kemudian dibawa ke Mabes TNI dan dibahas bersama Departemen Pertahanan dan instansi terkait seperti Departemen Keuangan.

Sebelumnya, Sekjen Departemen Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengemukakan, segera menggelar rapat bersama Mabes TNI untuk membahas apa saja yang akan difokuskan menyusul rencana kenaikan anggaran pertahanan/TNI sebesar 20 persen pada APBN 2010.

"Kami (Dephan) akan bahas bersama TNI untuk menentukan apa saja yang bisa dilakukan dengan kenaikan anggaran itu. Setelah itu, baru kami berkoordinasi dan membahas bersama instansi terkait seperti Departemen Pertahanan," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, dalam rancangan APBN 2010, pemerintah mengusulkan kepada DPR untuk menaikkan anggaran pertahanan lebih dari 20 persen dari Rp 33,6 triliun pada 2009 menjadi Rp 40,6 triliun.

"Secara sistematik, tahun demi tahun, kita menuju angka yang dibutuhkan untuk mencapai kekuatan minimum yang diperlukan, antara Rp 100-120 triliun," ujar Presiden.(*) COPYRIGHT © 2009

Kamis, 25 Juni 2009

Personil Pesawat Udara Dilarang Berbisnis

sumber: Tempointeraktif.com

Kamis, 25 Juni 2009 | 17:17 WIB

TEMPO Interaktif, Magetan - Kepala Dinas Material TNI AU Marsekal Pertama I Ketut Sudiasa melarang semua personil pesawat udara berbisnis. Hal itu dikhawatirkan memicu ketidak hati-hatian mereka dalam mengeporasikan pesawat hingga berbuah kecelakaan.

Dalam arahannya kepada perwira Korp Perbekalan Lanud Iswahjudi dan Insub di Dinning Hall Lanud Iswahjudi Magetan Kamis (25/6) tadi siang, Sudiasa mengatakan salah satu penyebab terjadinya musibah kecelakaan udara berawal dari angkutan. Mereka diminta melaksanakan tugas penerimaan barang ke dalam pesawat dengan hati-hati.

“Jangan mudah tergiur untuk melakukan tindakan di luar prosedur demi mencari untung,” katanya.

Meski tidak menjelaskan kegiatan para personil pesawat udara dalam mencari untung tersebut, dia mengakui jika selama ini kehidupan prajurit TNI AU masih kurang layak. Sebagai unsur pimpinan, Sudiasa berjanji akan memperjuangkan kesejahteraan personilnya agar tetap konsisten dalam bertugas sehari-hari.

Dia juga menegaskan bahwa setiap prajurit harus memiliki mentalitas sederhana dan pengabdian yang tulus kepada negara. Ini berarti, seberapapun penghargaan yang diberikan negara kepada mereka, setiap prajurit dilarang keras mencari penghasilan tambahan di luar prosedur.

“Kami tidak menginginkan peristiwa kecelakaan pesawat terbang TNI terus berlanjut,” katanya.

Kedatangan Kadismatau beserta rombongan ini diterima Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro. Kadismata juga menyempatkan diri mengunjungi Depohar 60 Lanud Iswahjudi sebelum memberikan pengarahan kepada Perwira Korp Perbekalan.

HARI TRI WASONO

Rabu, 24 Juni 2009

Alat Perekam Pesawat Tempur Diperbarui

sumber: Tempointeraktif.com

Rabu, 24 Juni 2009 | 15:34 WIB

TEMPO Interaktif, Magetan: Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU akan mengganti alat perekam di setiap pesawat tempur, transport, dan helikopter. Selama ini tim investigasi kerap kesulitan menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat terbang akibat minimnya perekam yang ada.

Staf Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI AU Letnan Kolonel Eddy S mengatakan pemasangan alat perekam ini merupakan hasil kerjasama TNI AU dengan PT Infloglobal Teknologi Semesta (PT. ITS) yang baru saja ditandatangani. Alat tersebut akan dipasang pada Pesawat F-16/Fighting Falcon dan F-5/Tiger yang bermarkas di Lanud Iswahjudi Magetan serta Pesawat Shukoi yang bermarkas di Lanud Hasanuddin Makasar.

“Alat perekam ini berupa video cassete recorder dan telah dicobakan di pesawat F-5/Tiger di Skadron Udara 14,” kata Eddy S usai menerima penjelasan Direktur PT. ITS Adi Sasongko di Ruang Briefing Penerbangan Disops Lanud Iswahjudi, Rabu (24/6).

Menurut dia, pemasangan alat perekam ini akan memudahkan tim investigasi kecelakaan udara untuk melacak kronologis musibah. Sebab proses investigasi kecelakaan selama ini kerap terhalang minimnya petunjuk yang diperoleh di bangkai pesawat. Sementara berdasarkan mekanisme penyelidikan kecelakaan, gangguan teknis maupun non teknis sekecil apapun harus teridentifikasi dengan baik.

Ketua Tim Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU Kolonel Lek Teguh P.S mengatakan selama ini alat perekaman yang terpasang di pesawat tempur F-5 E/F masih menggunakan Video Cassete Recorder (VCR). Berdasarkan pengalaman terbang yang ada, peralatan tersebut sudah tidak dapat merekam karena statusnya yang absolutte.

Dia menambahkan kehadiran VDR di tiap kabin pesawat tempur ini mampu melakukan perekaman audio maupun video selama penerbangan. Alat ini juga dilengkapi Hardisk Solid State SATA 64 GB yang dapat merekam kegiatan penerbangan selama 11 jam.

“Dengan alat ini efektifitas dan efisiensi perekaman proses penerbangan pesawat tempur F-5 E/F bisa lebih optimal,” katanya.

HARI TRI WASONO

Pangkoopsau II: Prajurit AU Jangan Takut Terbang

Pangkoopsau II: Prajurit AU Jangan Takut Terbang
(Foto ANTARA)
Makassar (ANTARA News) - Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) II, Marsekal Muda (Marsda) TNI Yushan Sayuti meminta prajurit jajaran Koopsau II untuk tidak takut melaksanakan tugas-tugas penerbangan.

Menyikapi beberapa musibah kecelakaan yang menimpa pesawat-pesawat TNI AU belakangan ini, Yushan Sayuti menyatakan semua itu merupakan bagian dari takdir Yang Maha Kuasa.

Kepada wartawan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (23/6), Pangkoopsau II menegaskan, semua awak pesawat sangat tidak mengharapkan pesawat yang diawakinya mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penerbangan para awak pesawat selalu melakukan persiapan-persiapan yang optimal sesuai prosedur.

Pangkoopsau II berada di Kendari, dalam rangka memimpin serah terima jabatan Komandan Lanud Wolter Monginsidi, dari Letkol Pnb I Gusti Ngurah Agung Ariateja kepada Letkol Pnb Arifien Sjahrir, kata Kepala Penerangan Koopsau II, Mayor Sonaji Wibowo.

"Beberapa kecelakaan pesawat yang dialami TNI AU belakangan ini saya pikir sudah menjadi takdir, tetapi yang jelas kita semua sangat tidak mengharapkan terjadinya kecelakaan pesawat, sebagai langkah antisipasinya sebelum terbang pasti dilakukan persiapan-persiapan sesuai prosedur yang optimal," kata Pangkoopsau II.

Dia menambahkan, hasil penyelidikan tim PPKPU belum selesai, saat ini tim masih terus bekerja. Pangkoopsau II berjanji kalau sudah ada kesimpulan, hasilnya akan disampaikan kepada masyarakat.

"Nanti ketika sudah selesai penyelidikannya, dimanapun kejadian itu akan kita sampaikan kepada masyarakat," jelas Pangkoopsau II.

Pangkoopsau II menampik kalau usia pesawat TNI AU menjadi biang keladi beberapa kecelakaan pesawat-pesawat TNI AU.

Orang nomor satu di Koopsau II ini menjelaskan, kalau semua pesawat Koopsau II selalu mengalami pra kondisi, yaitu pengecekan dan penggantian setiap suku cadang apabila memang usianya sudah habis, baik oleh jam terbang maupun on condition.

"Semua itu selalu dilakukan, tidak mungkin pesawat terbang tanpa dikatakan siap operasional, pesawat itu terbang, tentunya harus siap operasional," ujarnya.

Pangkoopsau II juga menolak kalau keterbatasan anggaran berpengaruh tingkat accident pesawat.

Menurutnya, selama ini anggaran untuk pemeliharaan pesawat tidak ada masalah yang berarti. "Seperti yang disampaikan Presiden, anggaran untuk perawatan pesawat tidak dikurangi," tegas Pangkoopsau II.

Mengantisipasi ke depan, pihak TNI AU saat ini telah melakukan beberapa langkah yang signifikan.

Untuk meningkatkan profisiensi, jam terbang awak pesawat, akan dikembalikan kepada standar semula yaitu lima belas jam terbang. Dengan demikian kemampuan awak pesawat akan tetap dapat dipertahankan, ujarnya.(*)

Selasa, 23 Juni 2009

Teknisi Iswahjudi "Hidupkan" Pesawat Tempur Inggris

sumber: Tempointeraktif.com

Selasa, 23 Juni 2009 | 14:54 WIB

TEMPO Interaktif, Magetan: Skadron Teknik Lanud Iswahudi Magetan berhasil menghidupkan dan menerbangkan pesawat Hawk MK-53. Pesawat buatan Inggris yang dibeli pada tahun 1978 tersebut sudah lama menganggur karena mengalami kerusakan mesin.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Iswahjudi Mayor Sus Sutrisno mengatakan upaya menerbangkan kembali pesawat Hawk MK-53 ini merupakan keberhasilan tersendiri bagi Skadron Teknik 042 Iswahudi. Selain sudah lama tidak digunakan, kerusakan mesin pesawat tersebut sangat parah.

"Para Ground Crew (teknisi) kita bekerja keras untuk menghidupkannya. Setiap uji coba mesin mengandung tingkat kegagalan tinggi," kata Sutrisno, Selasa (23/6).

Dia mencontohkan, salah satu uji coba yang paling rumit untuk menghidupkan kembali burung besi ini adalah pada tahapan ground running full performance test. Para teknisi dituntut teliti dan sabar dalam memperhitungkan kelembaban serta arah dan kecepatan angin agar sesuai dengan karakteristik mesin. Jika uji coba tersebut gagal dilakukan, pesawat tersebut terancam tidak akan bisa dipergunakan kembali.

"Kami mencobanya pada pukul 03.00 - 06.00 WIB kemarin untuk memenuhi kondisi itu. Alhamdulillah berhasil," kata Sutrisno.

Kesulitan lain yang dihadapi personil Skatek 042 yang dipimpin Mayor Tek Eko Fibriyanto ini adalah pengepasan ring mesin pesawat. Sebab pemasangan satu mesin saja diperlukan waktu hingga dua pekan.

Dengan beroperasinya pesawat Hawk MK-53 ini, jumlah pesawat tempur yang dimiliki Lanud Iswahjudi menjadi bertambah. Mereka adalah pesawat F-16/Fighting Falcon yang dimiliki Skadron Udara 3, pesawat -5/Tiger yang dimiliki Skadron Udara 14, dan pesawat Hawk MK-53 milik Skadron Udara 15. Menurut Sutrisno, pesawat Hawk MK-53 ini masuk ke Indonesia pada tanggal 29 September 1980. Masa pakai pesawat tersebut akan habis pada tahun 2011 mendatang.

HARI TRI WASONO

Suku Cadang Pesawat Tempur Jelek Ditolak

Selasa, 23 Juni 2009 | 13:43 WIB

TEMPO Interaktif, Magetan: Komandan Lapangan Udara (Lanud) Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedra meminta personilnya untuk berani menolak suku cadang pesawat yang tidak layak. Hal ini untuk mengurangi resiko kecelakaan akibat pemasangan onderdil pesawat di luar standar.

"Demi keselamatan terbang, anak buah harus berani menolak jika disuruh memasang suku cadang pesawat yang tidak sesuai standar," kata Bambang, Selasa (23/6).

Menurut Bambang, tragedi kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akhir-akhir ini mendapat perhatian serius dari Asisten Operasi Kasau Marsekal Muda TNI Panji Utama. Terlebih lagi beberapa musibah tersebut disebabkan oleh ketidaklayakan onderdil pesawat yang tetap dipaksakan untuk terbang.

"Mabes AU terus berupaya meningkatkan fasilitas pendukung penerbangan di Skadron Udara. Jangan berkecil hati dengan anggaran yang minim," kata Bambang.

Saat ini, Skadron Terbang Lanud Iswahjudi tengah berusaha meningkatkan kegiatan latihan terbang meski hanya memiliki satu pesawat latih. Kondisi ini secara langsung berdampak pada minimnya pencapaian am terbang di tengah minimnya anggaran yang diterima. Namun demikian, Mabes TNI AU akan memberikan dukungan anggaran perorangan berupa peningkatan tunjangan, asuransi, pemenuhan kebutuhan operasional, dan fasilitas keselamatan.

HARI TRI WASONO